Sebuah Cerita Perjalanan Hidup ….

Oktober 20, 2008

27 Mei 2006, Yang Tak Terlupakan

Filed under: Uncategorized — ariewidiastuti @ 10:28 am

27 MAY 2006, Yang Tak Terlupakan

 

”Langit begitu terang oleh bintang

Namun gempa tak berhenti mengguncang

Bumiku yang dulu tenang

Sekarang menjadi mencekam oleh gelombang gempa

Yang buat semua porak poranda”

 

Sabtu, 27 Mei 2006, matahari menampakkan wajah cerahnya namun tidak lama kemudian hanya dengan hitungan detik sinarnya tertutupi oleh kabut reruntuhan bangunan rumah-rumah penduduk (gelap pekat). Gempa menghancurkan rumahku dan semua rumah didesaku.

Ketika gempa itu terjadi aku berada dalam rumah, saat itu ada kamarku. Dari goncangan pertama yang diiringi suara gemuruh aku langsung lari menuju pintu keluar, tanpa pikir panjang aku asal aja lari  (mungkin udah digerakin ama malaikat pelindung kali). Terbesit dalam pikiranku saat keluar “Wah gunung Merapi meletus” namun sedikit ragu “lama2 kok kenceng baget ya” tanpa merasakan goncangan gempa(sedikit ga sadar) aku cepet2 lari aja + berucap “Laillahaillallah” sepanjang lari. Setelah keluar dari rumah utama (sambil lari tentunya) dan sambil dihujani genteng2, labur, dan bata  sempat berpikir “Apakah ini kiamat”. Pada saat itu aku pasrah pada Allah jika aku harus mati saat itu juga. Dan akhirnya pun aku terjatuh kejatuhan tembok ruang sholat yang berada disebelah timurku, tak terpikir apapun aku PASRAH saja (gempa masih berguncang kencang). Beberapa detik kemudian gempa berhenti, dalam hatiku “Alhamdulillah gempa udah berhenti, kepalaku masih kliatan dan masih utuh, Alhamdulillah aku masih hidup” walaupun perut ke bawahku gak kliatan lagi. Tanpa sadar ternyata aku terjatuh duduk dan badanku dah tertimbun reruntuhan, hanya kliatan mataku yang masih bisa kedap-kedip.

Langsung aku khawatir sluruh kluargaku, yang paling pertama adalah ibuku langsung aja aku panggil (tapi ga bisa teriak lagi coz dah lemes). Padahal saat itu kondisi paling parah diantara mereka, aku gak bakalan bisa bangun tanpa pertolongan orang lain.

Aq : “Ma’ mama’ ”

Bapak: (di luar rumah teriak kuenceng bgt) Allahu akbar… berkali-kali

Ibuku: “sik nok” (Sambil menyingkirkan kayu-kayu yang jatuhin ibuku)

Bapak: (di luar rumah teriak kuenceng bgt semua dipanggil) ARii…, ARii…, mama’, TOLE TOLE TOLE……!!!!

Aq: “ma’……………!!!! Cepet dene”

Tetangga; “Simbok … simbok……….!!!”

Ibuku: “sik nok, kowe nengdi?” (sambil nolongin adikku yang blm bisa berdiri dibawah kayu reng dan genteng dengan kening yang mengucur darah, terluka entah kena apa jadi bikin ibuku khawatir banget).

Aq: “aku neng kene ma, aku neng ngarep lawang’’ ( masih di dalam rumah mo kluar blm nyampe tinggal 1 meteran). 

ibuku: “iyo nok, kosik” (berjalan diatas puing2 rumah)

Bapak: (di luar rumah teriak kuenceng bgt semua dipanggil) TOLE TOLE TOLE……!!!!

Ibuku: “uwis, uwis, wis neng kene”

Ibuku: (shok ngliat aku yang cuma kliatan mata ku yang kedip-kedip)

“adooh piye iki,(kemudian teriak) Tulung tulung anakku ”

Kemudian adikku, bapakku dateng nolongin aku”

Bapak: “Adooh kok koyo ngene”

Adikku: “Huh huuh” (sambil geleng2 ngliatin aku) “kok koyo ngene

 

Saat itu mereka mengkhawatirkan ku (masih utuh gak ya kakiku), aku sendiri aja khawatir akan lumpuh. Gimana gak khawatir diatas kaki ku itu tembok dan di atasnya lagi ada cor-coran (semen padet penguat dinding yang ada besinya itu lho). Yang paling ngeri ternyata diatas kepalaku itu ada cor-coran dan alhamdulillah ga jatuhin kepalaku.

Dengan muka pucat dan masih deg-degan sambil kebingungan, mereka nolongin aku bongkarin semua yang ada diatas kaki dan tanganku.

Aq: “aduh, ojo neng kono, kuwi sikilku” (bilang ma adikku)

Aq: “aduh kuwi yo sikil” (bilang ma bapakku)

Aq: “Ojo diidak ki tangan”

Saking gugupnya kaki dan tanganku diinjek2. Kemudian Bongkar, bongkar, bongkar, slesai, aku langsung bisa berdiri (Alhamdulillah). Ibuku juga lega aku bisa berdiri. Mungkin klo aku ga segera ditolongin aku dah lumpuh kali yak, klo ada 15 menit aku tertimbun mungkin kakiku dah memar biru semua.

Kemudian kami keluar. Dan inget mbahku cuma sendirian dirumah.

Ibuku: “isoh ora nok”

Aq: “isoh, ma’ ” (sambil gemeter, lemes)

Aq: “simbok, cepet ne simbok” (maksudnya simbah).

Kemudian aku kluar, dan baru berdiri sebentar saja ternyata aku tidak kuat trus aku duduk aja. Saat itu tetanggaku masih teriak “simbok, simbok”.

Dan sepertinya udah gak ada harapan lagi buat tetanggaku itu.

Tetangga: (sambil nangis) simbok nengdi???”

Bapakku, adikku dan mama’ku semuanya nolongin simbok. Dan ternyata simbok gak bisa berjalan dan harus dibopong. Kemudian didudukin dibelakang rumah (deket kali). Aku disuruh nemenin simbok disana dan aku kuat-kuatin untuk jalan. “Aduh lewat mana ini jalan udah ga kliatan lagi ketutup puing-puing rumah”.

Tetanggaku bilang “lewat sini lho” ( lewat rumah orang ).

Belum sampe di tempat simbok, gak lama kemudian ada kabar ibunya tetanggaku tadi yang teriak-teriak ternyata udah meninggal karena kehimpit dua tembok(mbah dasir namanya), Innalillahi wainnailaihi roji’un. Simbah2 di samping rumahnya katanya kakinya juga patah. Tetangga yang lain dari sebelah timur bilang: ‘mesakke Lek Sipon sikile othal-athil”, Astaghfirullahal’adzim, aku langsung merinding.

Beberapa menit kemudian kakak temenku teriak “tsunami, tsunami, banyune mundak, banyune kali mundak!!!” (maksudnya air sungai Opak naik).

Sebelah utara rumahku itu kali Opak kira-kira 100 meteran lah. Kami semua panik langsung pada lari ke arah gunung. “Waduh gimana nih simbok sendirian di pinggir kali”. Langsung bapak tak suruh nylametin simbok. Walaupun aku pikir tsunami gak mungkin nyampe sini, aku tetep aja ikut lari (sambil khawatir ama simbah dan gak ngrasain kakiku lagi). Karena sluruh tubuhku kotor banget aku bersihin dulu dan sekalian menyampo rambut yang warnanya udah brubah jadi putih semua akibat kena labor. Huu kakiku kena air perih banget, banyak lecet2 dikakiku, huiih sakit. Dan tak terasa kepalaku ternyata benjol2 dan dipegang sakit. Kepala ibuku malah kayak robek hiiiii dan sedikit berdarah. Tapi Alhamdulillah gak apa2. Untung aja sumur kami masih bisa dipake.

Ibuku: “Ri nggowo iki, klosone yo di gowo”

Aq: “ aduh opo iki kok abot banget, mbok rasah digowo wae”

Ibuku: “sopo ngerti ki kanggo”

Aq: “terserahlah, abot banget ki”

Sambil jalan menuju gunung Salatan, aku khawatir ma mbahku yang belum dipindah. Aku ma ibuku jalan terus dan di pinggir jalan ketemu simbah-simbah yang tergeletak gak bisa jalan. Trus ada truk lewat yang ternyata ngangkut orang sakit, trus aku stop sekalian buat bawa simbah itu. Aku liat laki-laki yang ada di atas truk itu seperti sangat kesakitan dan katanya tulang kakinya patah.

Kemudian sampailah di gunung, dibawah gunung ketemu jenazah mbah Dasir yang di tunggu kluargannya.

Anaknya bilang: “ki simbok ra ono” (mengira kami belum tahu).

Sesampainya diatas aku istirahat dan beberapa lama kemudian simbahku dateng diangkat ma orang-orang. Ibuku nyari tempat buat istirahat, dan aku ma simbok pun istirahat bareng2 ma orang2 dan banyak yang terluka. Di deketku dua orang ga bisa gerak sama sekali dan kesentuh sedikit aja kesakitan, aduh kasihan banget.

Karena masih pagi kami pun kelaparan dan tentu saja semua makanan tertimbun. Pedagang-pedagangpun akhirnya berkorban, daging ayam buat dijual dipasarpun dimasak bareng2 sejadinya. Beras dari manapun dimasak. Warung-warung juga ludes.  Dan pagi itu aku cuma makan pisang dan simbahku aku suruh makan nasi tentunya tanpa lauk coz ayam yang dimasak kayaknya gak mateng.

Tak terasa udah zuhur akupun mencoba berdiri dan ternyata susah. Akupun mencoba berjalan buat ambil air wudhu di sumur di tengah sawah sekalian mau pipis. Ternyata aku gak  bisa jalan sendiri, aku suruh dipapah temenku. Sesampainya di sumur aku gak kuat lagi pandanganku ilang dan pusing banget (baru kali ini ngrasain mo pingsan dan aku kira aku mau mati). Aku bilang ma temenku aku mo pingsan dan tolong panggilin orang buat menggendongku. Dan akhirnya aku diangkat ma adikku dan temenku. Berjalan satu langkahpun aku ga kuat lagi. Dan aku sadar kenapa aku hampir pingsan coz aku belum makan sedikitpun apalagi dalam keadaan kakiku yang luka-luka ini. Tapi bagaimana mau makan dengan keadaan seperti ini, ngeri deh. Dan sesampainya ditempat istirahatku tadi aku langsung makan nasi di depanku yang ditaruh pake daun.

                Selama di gunung gempa2 susulan berguncang terus dan tiap kali ada gempa kami pun berucap “Laillahaillallah, Allahuakbar” dan langsung bangun (kayak mau lari) padahal udah di tempat terbuka. Kami masih trauma.

                Kira2 jam 2 siang aku ma mbahku dijemput sepupuku mo dibawa ke rumah pakdeku dan diobati disana coz sepupuku itu dokter. Aku dipapah turun gunung menuju mobil. Aku gak bisa jalan sama sekali coz kaki kananku pergelangan pergelangannya kayak  kesleo, bawah tumit kira-kira 4 cm persegi kulitnya ilang, dan kaki kiriku lututnya bengkak biru plus lecet. Luka kakiku di bersihin dan dikasih obat merah. Dan cuma minum antibiotic dan obat penghilang nyeri. Lumayan sih lama kelamaan aku bisa jalan sendiri.

                Rumah pakdeku gak rubuh sih tapi didalamnya pasti berantakan. Sampai sore aku di depan rumah pakdeku (gak brani masuk rumah). Aku sebenernya pingin pulang walaupun gak punya rumah tapi bersama kluarga sendiri kan lebih tenang. Untung bapakku dateng dan aku ikut pulang sampe2 lupa bawa obat. Simbahku beberapa hari tinggal di rumah pakdeku.

                Sesampainya di dusunku ternyata orang2 sudah bikin tenda dideket jalan dan aku sekeluargapun numpang tidur di tenda. Dan orang2 yang masih takut tsunami pun tidur di gunung. Dapat kabar bahwa pada hari sabtu itu ada 11 orang yang meninggal dan sudah dimakamkan. Ada beberapa orang yang belum ditemukan dan akan dicari besok.

                Malam itu ujan deres banget  dan gempa-gempa susulan masih ada. Sebelum aku tidur beristirahat ibuku ma temennya malah ngobrol terus, aduh brisik, dan malah bilang ke aku gini: “Tadi ada crita ngeri lho, temenku (Irul namanya,cewek) ngliat setan (seetan, jin kali!!) di depan tenda yang kami tempati, hiiiiii. Katanya badannya besar dan tinggi (gendruo kali ya). Kenapa juga harus aku dicritain, pake ditunjukin tempatnya lagi.  Hiiiiii……. Dan malam itu pun Alhamdulillah aku bisa tidur walaupun kedinginan dan sluruh tubuh udah terasa sakit semua.

Dan selama 2 malam kluargaku ikut ditenda orang. Baru malam ke 3 kami punya tenda sendiri. Selama 3 malam hujan terus, waktu pertama kali tidur ditenda samping rumah gak ada temen/tetangga yang bikin tenda dideket rumahku. Hiiii.. serem banget. Sepiiiii.. di antara reruntuhan rumah yang kalo diliat-liat mirip kuburan apalagi diiringi gempa-gempa susulan dan gak ada listrik. MasyaAllah ternyata tidur ditenda itu duingin banget mana 2 malam selimutnya belum ketemu apalagi tiap malam ujan. Wah lengkap banget penderitaan ini. Selama 3 hari setelah gempa, sepertinya aku merasakan yang namanya neraka dunia. Mental dan fisik tersiksa, gimana ga slama 3 hari blm ada bantuan apapun yang masuk jadi makan seadanya. Dan slama 3 hari itu kami tinggal di tenda yg nggak tertutup rapat padahal tiap malam hujan deras, jadi tidur ditempat yang basah, duingin rek. Tapi malah sebaliknya klo siang masyaAllah puanas. 

Selama seminggu setelah gempa kerjaanku cuci-mencuci baju yang kehujanan yang baru saja ditemukan dengan susah payah. Kerjaan yang lain yaitu masak, yang paling banyak ya masak air coz kalo siang hawanya puanas banget dan kalo malam duingin. Masak seadanaya dari bahan makanan yang udah ditemuin dan dari bantuan2, yang paling sering makan mie. Aku gak bisa ikut bantuin nyari2 barang coz kakiku masih sakit, jalan di atas reruntuhan kan susah. Adikku aku suruh nyariin barang2 pentingku khususnya HP dan dompetku. Kata adikkku “aduh susah nyari HPmu kamarmu ketutup sampe lutut capek bgt dan gak slesai2 bongkar2”. Aku khawatirnya klo malam kan ujan, HP kalo kena air kan gak bisa kepake lagi. Baru hari ke 3 semua HP ketemu, yang masih utuh cuma punya bapak, itupun baterainya abis. Aku harus ke kota buat ngeces. Temen2 pasti khawatir coz ga bisa hubungin aku, mungkin dah mengira aku mati kali ye. Maap aja, banyak yang sms tapi ga tau sapa aja yang sms coz no nya aku simpan di HP yang rusak itu. Semua asal aja aku bales.

Wah lumayan barang2 elektronik kayak tipi, radio tape, dan CD player sepertinya masih bisa dipakai, lumayan buat hiburan. Aneh kok tipinya kok masih utuh yak. Alhamdulillah motor juga masih slamet bisa buat pergi2.Tapi salah satu barang favoritku yaitu MP3 sampai seminggu juga belum ketemu aku coba cari di kamar ga ketemu2, baru mengais2 separo kamar aja capek bgt dan akhirnya aku menyerah, ampe kulitku gosong. Susahlah nyari barang sekecil itu. Aku malah beresin buku2 yang masih bisa dipake. Alhamdulillah setelah seminggu gempa, listrik udah menyala. Ada sih yang nyumbang diesel tapi pemakainya terbatas.

Temen-temen STIS banyak yang datang ke rumahku, nengokin keadaan kluargaku. Hari sabtu sore rombongan STIS (Bu Rina, Djoko, dkk) datang ke rumah, sayang sekali aku lagi gak ada di rumah, waktu itu aku lagi nungguin mbahku di RS Sarjito. Terpaksa aku sendiri nunggu coz semua sodara sibuk padahal kakiku masih sakit dan aku brangkat sendiri naik motor padahal sarjito itu juauh bgt, kira2 1 jam perjalanan apalagi aku ga tau simbahku di ruang mana. Harus nanya kesana kemari, luas bgt lagi, bingung plus capek. Mungkin 1 jam aku baru nemu ruanganmnya, sepupuku sih ngasih tau ruangannya ga jelas.

Minggu sore aku balik ke Jakarta dengan perasaan sedih, sambil menangis karena tidak tega meninggalkan kluargaku dalam keadaan seperti ini. Mau gimana lagi hidup gak berhenti di sini, aku harus nglanjutin kuliahku. Waktu di jakarta Aku baru nyadar ternyata memar di tubuhku banyak banget, biru2 semua. Di sana kan gak sempet ngliat, mandi aja di tempat terbuka. Kemarin2 sih ngrasa sakit tapi aku gak begitu merhatiin.

Tanpa diduga semua ini terjadi. Semua rumah hancur akibat gempa yang begitu dahsyatnya mengguncang sentral jawa bagian selatan. BMG menyatakan bahwa kekuatan gempa 5,9 skalarichter tapi Aku ga percaya kalo kekuatan gempa cuma segitu coz gempa yang kami rasakan sangat kuat banget, mungkin karena kedalaman gempanya yang pendek. Tak taulah pokoknya gempa ini amat sangat dahsyat menggoncang bumi Bantul dan Klaten.

                Rumah yang dibangun slama 15 tahun dengan kringat bapak sendiri hancur tak bersisa. Semua memang ada hikmahnya. Tanpa keajaiban Allah aku dan kluargaku gak akan mungkin selamat dan masih sehat. Syukur selalu ku panjatkan. Trimakasih buat temen2 yang telah dateng ke rumah dan trimakasih pada semua atas bantuan dan kepedulian kalian.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.